Bagaimana jika engkau terlahir senyap sedangkan dunia menginginkanmu tak pernah menutup mulut?
Aku? Kurasa, aku akan melakukan apa yang menjadi kewajibanku.
Dan, apa itu?
Menjadi hidup.
Lalu, mengabaikan jika seseorang ingin aku berlaku sebaliknya.
Apa kau bisa melakukannya? Bukankah dunia selalu menyergapmu agar menggemakan teriakmu?
Ya.
Tapi, kenapa?
Kembali lagi, ini hidupku, aku berhak lakukan apapun itu.
Tapi kau tahu tentang masyarakat, bukan? Bukankah mereka akan memaksamu menjadi sesuatu yang cocok dengan standarnya?
Kau mulai membuatku takut.
Karena aku benar?
Ya. Dan, karena kau mengingatkan bahwa aku pengecut.
Aku tahu. Kau bahkan tak piker tertidur tanpa memikirkan akan jadi apa dirimu di mata orang-orang, bukan?
Berhentilah!
Ini sudah malam.
Aku tak bisa lagi mendengar ocehanmu!
Hei, aku semakin bersemangat! Cerialah! Mengomellah! Aku tidak peduli! Aku ingin yang terbaik untukmu, kau harus mendengarkanku!
Tidak. Aku tidak salah. Aku melakukan semua ini untuk ketenanganku. Kenapa kau memaksamu?
Bagaimana rasanya menjadi senyap?
Aku lelah. Aku ingin diam. Saja. Aku tidak ingin membuka mulut. Aku ingin bergelimang selimut dan membuka-buka novel yang kutimbun dalam debu. Aku ingin meminum kopi dan mendengarkan musik dari earphone, bukan speaker seperti kebanyakan mereka. Aku ingin semua diam. Aku butuh mode senyap untuk-
Bagaimana rasanya menjadi senyap dalam dunia yang berceloteh?
Komentar
Posting Komentar