Langsung ke konten utama

Postingan

Berdentum

Jantung manusia berdetak Berdegup Sehari tak terhitung berapa ribu kali Bagaimana dalam seminggu?     Atau sebulan?          Mungkin setahun? Kau tahu bagaimana bunyi detak itu? Deg-deg. Deg-deg. Lalu semua berubah, Ah, iya, setuju kah kau soal ini? Suara degup jantungmu berubah ketika bertemu dengannya Degup itu menjadi dentum, yang tak dapat lagi kau kendalikan geraknya Dalam otakmu tak ada yang dapat kau pikirkan,  selain bagaimana agar dentuman itu tak terdengar olehnya Dia semakin mendekat, dan dentum itu kini berubah menjadi ledakan.
Postingan terbaru

Menjadi Senyap Dalam Dunia Yang Berceloteh

  Bagaimana jika engkau terlahir senyap sedangkan dunia menginginkanmu tak pernah menutup mulut? Aku? Kurasa, aku akan melakukan apa yang menjadi kewajibanku. Dan, apa itu? Menjadi hidup.                Lalu, mengabaikan jika seseorang ingin aku berlaku sebaliknya. Apa kau bisa melakukannya? Bukankah dunia selalu menyergapmu agar menggemakan teriakmu? Ya. Tapi, kenapa? Kembali lagi, ini hidupku, aku berhak lakukan apapun itu. Tapi kau tahu tentang masyarakat, bukan? Bukankah mereka akan memaksamu menjadi sesuatu yang cocok dengan standarnya? Kau mulai membuatku takut. Karena aku benar? Ya. Dan, karena kau mengingatkan bahwa aku pengecut. Aku tahu. Kau bahkan tak piker tertidur tanpa memikirkan akan jadi apa dirimu di mata orang-orang, bukan? Berhentilah!                Ini sudah malam.          ...

Gado Kata

 Aku ingin kau menikmati ini seperti cemilan sore yang ringan! Ditemani atau tidak ditemani secangkir kopi, bagiku tak masalah. Aku ingin kau menikmati ini seperti cemilan sore yang kau rindukan! Dalam warna jingga yang menenangkan maupun kelabu dan gerimis yang menyelimuti. Nikmatilah, seperti engkau menikmati makan siangmu yang tanpa nasi. Setidaknya, begitulah kata di Bahasa Jawa yang aku tahu. Gado. Seperti engkau makan lauk pauk tanpa sebutir pun nasi. Tidak, ini bukan restoran. Maka, aku tak akan menghidangkan nasi goreng atau tequilla kesukaaanmu. Di sini hanya ada kata, yang akan kurangkai agar engkau bisa cukup bahagia.  Aku ingin kau menikmati ini seperti cemilan sore yang ringan. Nikmatilah pelan-pelan, nikmatilah sambil menikmati aliran. Kau bebas jika ingin menelan, dan bebas juga jika menganggap ini sebuah beban. Muntahkan, tak mengapa. Ini tugasku, untuk membuat cemilan yang menyenangkan.  Aku ingin kau menikmati ini seperti cemilan sore yang ringan!